Tasawuf Narkoba Bertentangan Nasionalisme

Tasawuf Narkoba Bertentangan Nasionalisme

Tasawuf Narkoba Bertentangan Nasionalisme

Munculnya kontroversi yang terjadi akhir-akhir ini untuk menyerukan untuk mendapatkan dua pilihan Islam atau ras (nasionalisme) yang lahir sejak hati najis yang tidak mendapatkan cahaya ilahi dalam diri Anda sendiri yang menjadi sebuah kesadaran.

Ini dibagikan oleh cendekiawan Muslim Yudi Latief saat memberikan tausiahnya ‘Pancasila Dalam Sufisme Islam’, di Zawiyah Arraudhah, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (4/6).

“Jika hati kita kotor setelah itu bayangan bayangan dari cahaya tuhan pasti tidak akan terlihat bahwa hanya ada kegelapan pada muka Situs Sbobet http://agensbobet5758.com Daftar Sbobet, itu hanya muncul dalam satu naungan saja dan itu kemudian meniadakan jika aku berakhir menjadi seorang Muslim setelah itu aku Saya bukan bangsa Indonesia, seakan diminta untuk memilih satu Islam atau berakhir menjadi Indonesia, “klaim Yudi.

Tasawuf Narkoba Bertentangan Nasionalisme

Sejalan dengan Yudi, kontradiksi itu sebenarnya sudah terjadi yang kemudian dimanfaatkan oleh kolonial untuk mengelabui struktur Masyumi (bisnis) dengan membuat seleksi menjadi Islam atau nasionalis.

“Kita bisa memilih salah satu dari kita untuk menjadi Islam atau nasionalis, kita tidak bisa mengklaim saya seorang Muslim dan seorang nasionalis, namun kita semua adalah Islam dan kita semua adalah patriot,” katanya.

Jangan Memerangi Agama dengan Budaya

Budaya Ngatawi Al-Zastrow menyatakan bahwa iman seharusnya tidak bertentangan dengan budaya, terutama dalam konteks kemitraan yang saling menguntungkan di Indonesia antara keduanya telah lama berdiri.

“Dalam konteks kenusantaraan yang ada di Indonesia, budaya, praktik, dan seni menjadi alat untuk berbagi pelatihan agama,” kata Zastrow di Jakarta, Jumat (13/4).

Mantan ketua Institut Seni Rupa Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU mengatakan penyebaran Islam menjadi agama mayoritas Indonesia tidak terlepas dari aspek sosial.

“Dengan masyarakat ini wajah Islam menjadi menyenangkan serta sesuai dengan praktik lingkungan yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Sesuai dengan dirinya, budaya ekspresi spiritual Islam adalah ekstra inovatif, jauh lebih bervariasi, serta lebih banyak disetujui tanpa mengubah persyaratan mentor untuk mendapatkan sebuah keyakinan yang hakiki.